Bonek adalah singkatan dari kata-kata bahasa Jawa ”Bondo Nekad”, yang artinya adalah hanya bermodal tekad (kemauan).
Julukan
ini diberikan kepada suporter Persebaya Surabaya (atau bisa jadi
mereka menjuluki diri mereka sendiri) karena memang dengan hanya
bermodalkan tekad saja, mereka berani nonton kesebelasan favoritnya
bertanding, tanpa bayar, bahkan kalau harus ke Jakarta, mereka jalankan
walau hanya punya duit Rp5.000 di kantong, atau malah gakpunya uang
sama sekali. Kedengarannya heroik sekali para Bonek ini dalam mendukung
kesebelasan kesayangannya. Tetapi dalam praktiknya, untuk melaksanakan
niat itu, para Bonek harus melanggar peraturan dan merugikan orang
lain seperti menyerobot masuk stadion tanpa bayar atau naik kereta api
tanpa karcis. Kalau mau makan, mereka bahkan menyerbu tukang- tukang
makanan dan pergi begitu saja, tanpa bayar.
Mereka pun
pernah mengamuk dan merusak stasiun sampai kepala stasiun memutuskan
untuk menyediakan nasi bungkus agar mereka tidak berbuat anarki lagi.
Perbuatan anarkistis ini bukan monopoli suporter Persebaya saja.
Suporter-suporter dari kota-kota lain tidak kalah ganasnya.Yang saya
tahu persis adalah Jakmania, suporter Persija Jakarta, karena kebetulan
seorang mahasiswa saya dari Ilmu Kepolisian UI sedang menyusun
tesisnya mengenai berbagai kasus pelanggaran dan kriminal yang
dilakukan Jakmaniadi Jakarta Selatan. Penelitian itu belum menghasilkan
kesimpulan, tetapi apa pun kesimpulannya, saya mungkin masih dapat
mengerti. Bahwa yang melakukan tindakan anarkistis itu adalah kelompok
Bonekdan Jakmania, yang pada dasarnya tidak jauhjauh dari golongan
preman.
Mulai dari preman beneran, preman amatiran, teman
preman, saudara preman, tetangga preman, sampai anak preman. Tetapi,
lain halnya ketika baru-baru ini saya melihat Breaking News di televisi
yang meliput Kongres PSSI di Pekanbaru. Saya terheran-heran ketika
saya melihat sejumlah tentara berseragam dengan topi rimba, berdiri
berjajar, di depan Sang Saka Dwiwarna raksasa yang digelar lebarlebar
di lantai (kok ya sempatsempatnya menjahit bendera raksasa), sementara
ada satu orang berpakaian sipil memegang megaphone di depan pasukan
tentara itu dan tampaknya seperti sedang berorasi.
Loh,
ada apa ini? Kok ada tentara masuk Kongres PSSI? Untuk kontraterorisme
maupun kasus-kasus seberat Cikeusik dan Temanggung pun polisi belum
melibatkan TNI, kok baru soal PSSI sudah ada tentara? Penjelasan Kadiv
Humas Polri bahwa kehadiran TNI atas undangan Polri mungkin baik untuk
menjaga hubungan baik antar dua institusi, tetapi tetap tidak masuk
akal saya. Terlebih lagi ketika kemudian diberitakan bahwa sebagian
dari oknum ”berbadan tegap dan berambut cepak” (istilah lain untuk
menyebut anggota tentara/polisi) ini menyerbu masuk dan menduduki ruang
sidang, dan memaksakan persidangan terus berlangsung tanpa kehadiran
pengurus PSSI yang resmi (walaupun sudah ditengarai korupsi). Kalau
berita ini benar, apa bedanya tentara sama Bonek? Kan dua-duanya
bermodal nekat saja, alias samasama anarkis?
*** Salah
satu ciri anarkis adalah tidak mau ikut aturan.Apa yang dikehendakinya
adalah yang paling benar dan harus terjadi, bagaimanapun caranya. Kalau
yang berpikiran seperti itu adalah penguasa, namanya bukan anarkis
lagi, tetapi tiran. Contoh tiran dalam sejarah adalah Hitler, dalam
agama adalah Firaun. Jadi anarkis dan tiran sebetulnya sama, beda
pelaku saja. Intinya adalah bahwa keduanya tidak mengakui nilai dan
norma yang diakui oleh masyarakat luas, termasuk nilai keadilan dan
demokrasi. Dalam masyarakat modern, nilai dan norma itu dituangkan
dalam hukum,adat,agama,tata susila, dan sebagainya. Setiap anggota
masyarakat diharapkanmematuhinorma- normaitu sehingga masyarakat bisa
berjalan dengan tertib, aman, terkendali.
Sedangkan untuk
menjamin berlakunya aturanaturan itu diperlukan pemimpin dan aparat,
baik yang informal (tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh agama)
maupun yang formal (pemerintah, DPR, dan penegak hukum). Dasar
pemikirannya adalah bahwa sebagian besar masyarakat tidak paham aturan,
pemimpinlah yang harus menegakkan aturan. Untuk bisa menegakkan aturan
secara benar,pemimpin harus bisa menggunakan akalnya (yang biasanya
lebih terdidik daripada awam) untuk menentukan mana yang benar,mana yang
salah, mana yang halal, mana yang haram, mana yang hak, mana yang
bukan hak, dan seterusnya.
Termasuk para komandan tentara
di Pekanbaru itu harus tahu bahwa betapapun mayoritas bangsa ini ingin
perubahanpengurusPSSI, tetapsaja salah kalau tiba-tiba TNI muncul
dalam konteks yang tidak jelas. Kalau komandan- komandan para prajurit
itu tidak bisa membedakan mana yang kontekstual- benar dan tidak benar,
apa bedanya dengan orang awam atau bahkan Bonek?
***
Tetapi, yang tidak bisa menggunakan akalnya untuk menentukan
benar-salah bukan cuma tentara di Riau sana saja. Ketika Susno Duadji
divonis dengan mengenakan seragamnya, dia seakan-akan membawa-bawa
institusi Polri dalam perkara pribadinya. Sudah jelas, benar atau
salah, Susno Duadji, meskipun Komjen Pol,diadili sebagai pribadi. Tidak
mengatasnamakan Polri.Tetapi, Susno Duadji, pengacaranya, jaksa, dan
hakim juga (karena tidak ada yang menyatakan keberatan atau melarang)
tampaknya tidak peka terhadap pelanggaran nilai yang paling mendasar
ini, yaitu mencampuradukkan antara pribadi dan institusi.
Nah,
kalau pemimpin-pemimpin yang sudah sangat terpelajar ini, bahkan
profesional, masih belum bisa menggunakan rasionya untuk membedakan
mana yang benar dan mana yang salah, pantaslah kalau masyarakatnya juga
bermental Bonek semua, yang diungkapkan dalam perbuatan sehari-hari
seperti naik motor ugal-ugalan tanpa SIM, merokok sambil memasang
tabung gas,dan naik kereta api di atapnya (makanya namanya dulu
Perumka, artinya penumpang ngerumpi di atas kereta api),alasannya gak
punya duit. Mental Bonekjuga,kan? Susahnya, mental Bonek ini melanda
juga pemimpin-pemimpin religi.
Di Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam dikabarkan beberapa kabupaten hampir bangkrut karena
merekrut terlalu banyak orang (birokrasi terlalu gemuk) dan tidak ada
uang untuk menggaji pegawai sehingga harus meminjam ke bank dan pihak
ketiga lainnya,termasuk minta dana tambahan ke pemerintah pusat. Suatu
bukti mental Bonek lagi yaitu bahwa dengan modal iman dan takwa saja
semuanya akan beres.Nyatanya tidak begitu. Harus dibarengi juga oleh
ilmu dan pengetahuan yang cukup untuk mengelola sebuah wilayah dengan
baik.Apalagi memimpin negara! Tetapi, ada saja orang yang nekat
memproklamasikan Dewan Revolusi Islam untuk menggantikan pemerintahan
SBY.
*** Sebetulnya kalau kita selidiki lebih dalam (untuk
ini sebenarnya diperlukan penelitian), saya percaya bahwa para
komandan TNI di Pekanbaru, Komjen Pol Susno Duadji berikut para
pengacara, jaksa, hakim, atau para calon fungsionaris Dewan Revolusi
Islam (kalau berita itu benar) tahu betul apa yang benar, apa yang
salah, mana yang layak, dan mana yang tidak pantas. Tetapi mereka
seakan-akan lupa itu semua karena pengaruh faktor lain seperti
kepentingan pribadi, golongan, kelompok, ideologi, keyakinan, dan
sebagainya, yang membuat para pemimpin itu tidak jernih dalam mengambil
keputusan.
Tetapi, yang paling mengerikan adalah jika
para pemimpin itu sudah tidak mampu lagi berpikir jernih karena memang
malas berpikir.Lebih gampang ikut arus saja, setuju saja pada pendapat
orang, lebih baik selamat dari pada ketiban sial. Ini namanya mental
ikut-ikutan alias mental bebek, dan kalau para pemimpin sudah bermental
bebek, ujungujungnya anarkis akan berubah menjadi tiran lagi .
Mental Bonek
11:00:00 AM |
Label:
Others
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 Komentar:
Posting Komentar
Siapa nama anda ?