RSS

Belajar dari Kasus TVOne dan Bonek

Tak diingkari, Bonek adalah suporter yang paling menarik perhatian media massa. Pendukung Persebaya Surabaya itu dinilai memiliki militansi dan fanatisme luar biasa dalam memberikan dukungan kepada klub idola. Mereka juga kelompok suporter yang secara konsisten dalam jumlah besar (ribuan) selalu mengiringi Persebaya bertanding di mana pun.

Sayangnya, pemberitaan mengenai Bonek tak selamanya positif. Bahkan Bonek diidentikkan dengan holiganisme atau kekerasan suporter ala Indonesia. Media massa lebih cenderung memberitakan Bonek dari sisi negatif ketimbang sisi positif. 

Beritajatim.com menerima artikel dari Fajar Junaedi,seorang dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan peminat supporter studies. Ia telah membuat tiga buku mengenai ilmu komunikasi, dan membuat film dokumentasi suporter sepakbola Jogja-Solo dan Malang. Film dokumentasi yang tengah digarapnya adalah mengenai Bonek.

Artikel dari Fajar ini kami pecah dalam dua bagian. Ini merupakan bagian kedua atau terakhir. Selamat membaca dan menganalisis.

*** 

Di masa Margareth Teacher berkuasa menjadi perdana menteri, pemerintah Inggris dan federasi sepak bola Inggris berusaha sekuat tenaga menghentikan holiganisme, terutama setelah Inggris harus menanggung malu akibat Tragedi Heysel yang dituding disebabkan oleh suporter Liverpool dari Inggris pada tahun 1985.

Usaha keras ini dibarengi dengan peran media dengan bersikap lebih bijak dalam pemberitaan tentang holiganisme. Kini, dengan usaha keras yang melibatkan media massa juga, sepak bola Inggris menjadi industri yang maju terbebas dari holiganisme. 

Tentang relasi buruk yang kemudian berubah menjadi relasi yang positif di Inggris ini kita bisa menoleh pada pendapat pakar komunikasi massa mengenai bagaimana sebenarnya penanda media massa dalam kehidupan manusia. Pakar komunikasi massa dari Belanda, Dennis McQuail (2006) menyebutkankan beberapa penanda tentang media, yaitu pertama, media adalah jendela yang memungkinkan kita untuk melihat fenomena yang terjadi melebihi lingkungan dekat kita.

Kedua, media merupakan penerjemah yang membantu kita membuat perasaan mengalami. Ketiga, media menjadi platform atau pembawa yang menyalurkan informasi, komunikasi interaktif yang meliputi umpan balik kepada khalayak. Keempat media adalah penanda yang memberi kita dengan instruksi dan petunjuk. Kelima, media merupakan penyaring yang menyaring bagian-bagian pengalaman dan berfokus pada lainnya. Keenam, media adalah cermin yang memantulkan realitas kita kepada kita kembali.

Kasus kemarahan suporter Persebaya, Bonek atas pernyataan Karni Ilyas, Editor in Chief TVOne dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) pada Selasa (6/3/2012) bisa menjadi pembelajaran yang menarik. Alih-alih melakukan tindakan yang negatif atas pernyataan Karni Ilyas yang menyebutkan "Bonek pulang kampung, menghancurin rumah orang dan merampok makanan", Bonek justru melakukan langkah terpuji dengan mendatangi kantor perwakilan TVOne di Surabaya dan mengirimkan pesan pendek sms serta surat elektronik (e-mail) pengaduan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Banyaknya aduan yang masuk konon bahkan berhasil menjadi rekor pengaduan yang masuk ke KPI, dimana sekitar 2.400 sms pengaduan dan e-mail. Karni Ilyas pun akhirnya meminta maaf atas pernyataannya tersebut.

Apa yang dilakukan Bonek ini bisa menjadi preseden positif dalam membangun relasi positif antara media massa dan suporter. Media massa sebaiknya tidak hanya memberitakan perilaku negatif dari suporter, sebaliknya suporter juga harus menjadi khalayak aktif yang secara cerdas mengkonsumsi media.

Sebagaimana yang dikemukakan Dennis McQuail bahwa media media merupakan penyaring yang menyaring bagian-bagian pengalaman dan berfokus pada lainnya, maka suporter harus melihat bahwa realitas yang disajikan oleh media adalah realitas yang dikemas. 

Dengan melihat bahwa apa yang disajikan oleh media massa adalah realitas yang dikemas, maka suporter harus cerdas dalam mengkonsumsi media. 

Dari kontroversi pernyataan Karni Ilyas maka ada pelajaran berharga bagi suporter dan media massa di Indonesia. Pelajaran pertama adalah bahwa kemampuan Bonek dalam memanajemen pengaduan melalui KPI menjadi langkah yang cerdas, sehingga suporter tidak berhadapan vis a vis dengan media massa jika terjadi kesalahpahaman.

Pelajaran kedua, metode yang dilakukan oleh Bonek dalam mengajukan pengaduan melalui KPI menunjukan adanya melek media (media literacy) yang sedang tumbuh di ranah suporter sepak bola. 

Pelajaran ketiga, permintaan maaf Karni Ilyas memperlihatkan niat dari kalangan media massa untuk berelasi secara positif dengan suporter sepak bola. Sungguh alangkah luar biasanya jika media massa dan suporter bergandengan tangan memerangi holiganisme sebagaimana yang terjadi di Inggris tiga puluh tahun yang lalu. Semoga. [wir]

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 Komentar:

Posting Komentar

Siapa nama anda ?