Istilah bonek muncul secara tiba-tiba, nama besarnya pun ada karena
media massa. Pada awalnya nama bonek mempunyai reputasi bagus, namun
dalam perkembangannya lebih berkonotasi negatif.
Berawal dari
sebutan populer untuk suporter Persebaya ( kala itu "Green Force" ).
Antusias tak hanya dari kota Surabaya, namun dari kota-kota besar di
Jatim. Begitu antusiasnya Jawa Pos sampai dalam head line news tertulis " Hijaukan senayan " dan sambutan masyarakat Surabaya dan Jatim pun luar biasa.
Modal tekad menghijaukan senayan begitu menggebu. Yang punya duit
pas-pasan masih punya cara menggandol truk secara estafet dari
Surabaya-Jakarta sambil ngamen. Bahkan ada yang berangkat jauh-jauh
hari ke Jakarta (meski Persebaya belum tentu masuk final) dengan
menumpang kereta pertamina yang jalannya bak keong , yang penting
sampai Jakarta.
Semangat positif dan antusiasme tanpa ANAKRKIS dan
KERUSUHAN dengan melibatkan massa banyak itulah yang mendapatkan
acungan jempol banyak kalangan di Indonesia kala itu.
Sebagai catatan:
- Menghijaukan senayan dengan 110 ribu penonton dari Surabaya dan
Bandung. Jumlah suporter persebaya sekitar 40%. Ini merupakan rekor
jumlah penonton yang barangkali rekor ini hingga kini belum terpecahkan.
- Semangat heroik suporter Persebaya yang memanjat dan merayab sampai
atap senayaan yang berbentuk lingkaran hanya untuk membentangkan
spanduk super raksasa yang berwarna hijau bertuliskan "Merah Darahku
Putih Tulangku Bersatu dalam Semangatku".
Semangat dengan berbagai
cara yang HALAL untuk datang mendukung Persebaya ke senayan membuat
beberapa media massa, terutama Jawa Pos sebagai pelopornya
mengistilahkan BONEK (Bondo Nekad), bahwa semangat hidup dan semangat
untuk maju manusia perlu punya modal tekad yang kuat. Namun kini, modal
tekad atau bodo nekad atau BONEK, tidak ditunjukkan oleh generasi
bonek-bonek saat ini yang justru nekad dalam arti menghalalkan segala
cara.
Kesalahan terjadi karena:
- bonek sebelumnya yang tidak meninggalkan warisan.
- media massa yang kadang mengompori dan cenderung membenarkan.
- salah kaprah tekad dan modal nekad serupa tak sama. Tekad lebih ke
semangat untuk melakukan tindakan, sedangkan nekad lebih ke tindakan
yang dilakukannya. Seharusnya Bondo Tekad, bukan bondo nekad, namun
untuk kemudahan pengucapan lebih cenderung BondoNekad alias BONEK.
Jadi, tidak terlalu salah jika sekarang penduduk sepanjang rel yang
dilalui Bonek menjadi was-was, bahkan melempari kereta yang ditumpangi
Bonek dengan batu. Sungguh suatu yang ironi !
Ayo , rek berubah !
1:13:00 PM |
Label:
Others
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 Komentar:
Posting Komentar
Siapa nama anda ?